Jumat, 18 November 2016

Nilai Ekspor Ikan Kalbar Meningkat

Pontianak (Antara Kalbar) - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Barat, Gatot Rudiyono mengatakan, terjadi peningkatan ekspor hasil laut dari tahun sebelumnya, bahkan total ekspor sampai Oktober 2016 mencapai 2.438,58 ton. 

"Padahal pada tahun 2015 hanya 1.500 ton saja. Berdasarkan data tersebut, jelas terjadi peningkatan sekitar 938,58 ton ekspor hasil laut kita ke beberapa negara tetangga," kata Gatot di Pontianak.

Berdasarkan data itu target ekspor hasil laut tahun ini telah tercapai. Tahun ini target ekspor ikan yang ditentukan sebanyak 2.250 ton.

Gatot menyebutkan, ada dua pintu ekspor ikan di provinsi ini. Pertama di pintu perbatasan Kecamatan Entikong (Sanggau) dan Pontianak. 

Melalui Entikong, tercatat sudah 2.037,27 ton ikan yang diekspor. Sedangkan dari Pontianak baru mencapai 401,31 ton. 

Nilai Ekspor Ikan Kalbar Meningkat
"Untuk yang diekspor ini lebih didominasi rajungan (kepiting laut), udang, tenggiri dan cumi-cumi. Sedangkan tujuannya, yakni China, Hongkong dan Malaysia," katanya.

Sedangkan ikan laut yang dikirim antarpulau sudah mencapai 74.888,5 ton. Ikan ini dikirim ke Pulau Jawa dan tidak menutup kemungkinan akan diekspor ke berbagai negara.

"Apakah diekspor atau tidak tergantung pelaku usaha di sana," tuturnya.
Namun ikan air tawar juga tidak kalah pamor. Ikan air tawar juga dieskpor ke beberapa negara. 

Seperti, Singapura, Hongkong dan Malaysia. 
Jenis ikan yang diekspor, seperti arwana biasa 51.876 ekor, lalu arwana super red 25.893, tigerfish 31.612 dan termasuk kepiting hidup (air tawar) 21.350 ekor. 

"Jalur pengirimannya melalui Entikong," kata Gatot. 

Iapun optimistis target ekspor ikan tercapai. Untuk ikan air tawar, target eksportnya sebanyak 150.877 ekor. 
Sedangkan untuk ikan lainnya seperti lele dan patin cenderung masih konsumsi lokal. "Untuk tingkat konsumsi ikan juga sudah 35,32 kilo per kapita per tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dari sebelumnya, yakni hanya 24 kilo per kapita pertahun," kata Gatot

Sumber : http://kalbar.antaranews.com/berita/344790/nilai-ekspor-ikan-kalbar-meningkat

BI: Keuangan Inklusif Kalbar Terkendala Jaringan Internet


Pontianak  (Antara Kalbar) - Kepala Kanwil Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Dwi Suslamanto mengatakan hingga saat ini keuangan inklusif di provinsi itu masih rendah sebagaimana kondisi umum di Indonesia dan satu faktor penyebabnya terkendala jaringan internet.

"Untuk saat ini asalkan ada jaringan internet saja kita sudah bisa melakukan transaksi online. Kuncinya adalah jaringan internet. Dengan demikian jika itu ada maka kemajuan teknologi informasi membuat percepatan keuangan inklusi menjadi lebih mudah," ujarnya di Pontianak, Jumat.

Dengan besarnya peran jaring internet untuk meningkatkan keuangan inklusif di Kalbar ia berharap perusahaan penyedia internet untuk terus menambah BTS di berbagai pelosok Kalbar. 

"Berbeda dengan zaman dulu di mana untuk mendirikan lembaga jasa keuangan harus ada infrastruktur jalan yang relatif mahal," tuturnya.

Dwi menjelaskan keuangan inklusif ialah menyediakan akses terhadap layanan keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya peningkatan akses keuangan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi kerentanan dan menjadi jalan kelar dari kemiskinan.

"Sehingga peran pemerintah sangat penting hal tersebut. Bisa juga seperti membiasakan penggunaan transaksi online dan non tunai tersebut," kata dia.

Menurutnya Bank Indonesia sendiri terus menggalakkan program Gerakan Nasional Nontunai (GNNT). Selain untuk keamanan dan efisiensi, transaksi nontunai juga membuat setiap traksaksi tercatat. 

"Transaksi non tunai negara dapat mengurangi penggunaan uang kartal sehingga lebih efisien dan menghemat anggaran untuk percetakan dan penyimpanan uang. BI juga meyakini, apabila memakai transaksi nontunai, pembayaran bisa dilakukan secara lebih aman, lebih praktis, dan lebih efisien," kata dia.

Pihaknya juga terus mendorong tidak hanya untuk transaksi ritel, transaksi non tunai juga bisa diaplikasikan dalam berbagai aktivitas penggunaan uang negara baik APBN maupun APBD. 

"Transaksi non tunai sudah terlaksana secara luas, di tingkat pusat juga sudah hampir semua yang melakukan pembayaran non tunai. BI mengejar peningkatan penggunaan mata uang elektronik tidak hanya di perkotaan, tetapi juga hingga ke daerah-daerah," kata dia.

Sumber : http://kalbar.antaranews.com/berita/344865/bi-keuangan-inklusif-kalbar-terkendala-jaringan-internet

RAPBD 2017 Sambas Fokus Bangun Jalan

Sambas (Antara Kalbar) - Sebanyak 50 persen belanja langsung Pemkab Sambas pada rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2017 akan difokuskan untuk membangun jalan.

"Sebanyak 50 persen dari anggaran belanja langsung akan diarahkan untuk pembangunan infrastruktur jalan. Sekda dan seluruh kepala SKPD ditugaskan untuk mendampingi DPRD Kabupaten Sambas dalam pembahasan agar hasilnya bisa sesuai dan koorperatif," ujar Bupati Sambas Atbah Romin Suhaili saat dihubungi di Sambas, Kamis.

Atbah menjelaskan untuk APBD Kabupaten Sambas tahun 2017 tetap mendapat Rp1,5 triliun. 

Menurutnya angka tersbut tidak mengalami peningkatan karena melihat kondisi ekonomi nasional yang kurang baik.

RAPBD 2017 Sambas Fokus Bangun Jalan
Atbah memaparkan alasan 50 persen dari anggaran dialokasikan untuk jalan lantaran masih banyak jalan terutama jalan kabupaten di Sambas dalam kondisi rusak parah.

"Saya berharap tiga tahun ke depan semua infrastruktur jalan akan rampung dan tidak ada lagi masyarakat yang mengeluhkan tentang kondisi jalan kabupaten yang rusak," terangnya.

Untuk pembangunan jalan, katanya, selain menggunakan dana APBD untuk jalan kabupaten, ia mengarahkan kepala desa untuk menggunakan dana desa untuk pembangunan jalan desa.

"Sehingga dalam lima tahun mendatang baik jalan kabupaten atau jalan desa yang ada semuanya sudah sangat baik. Kita tidak ingin lagi masyarakat mengeluhkan tentang kondisi jalan," kata dia.

Atbah juga menambahkan fokus pembangunan infrastruktur juga untuk menselaraskan program nawacita Prisiden Joko Widodo.

"Biaya langsung yang digunakan untuk infrastruktur jalan tentunya akan berdampak dalam pengurangan dana di setiap SKPD yang ada. Solusinya hal-hal yang tidak penting dan yang sifatnya pemborosan dan kurang bermanfaat langsung kepada masyarakat kita tiadakan," kata dia.

Sumber : http://kalbar.antaranews.com/berita/344860/rapbd-2017-sambas-fokus-bangun-jalan

Petani Kalbar Berkebun Sayur Pekarangan Tanpa Membakar

Petani Kalbar Berkebun Sayur Pekarangan Tanpa Membakar

Pontianak (Antara Kalbar) - Petani di Dusun Nanga Bian, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat menerapkan program kebun sayur pekarangan sebagai upaya untuk mengurangi risiko kebakaran lahan.

"Kebun sayur pekarangan ini merupakan upaya mengurangi risiko kebakaran melalui pola pertanian ramah lingkungan, sekaligus untuk membangun ketahanan pangan," kata CEO Perkebunan PT SMART Tbk (Golden Agri Resources) Susanto, saat dihubungi di Pontianak, Jumat.

Ia menjelaskan, petani di dusun tersebut di bawah binaan langsung PT Paramitra Internusa Pratama (PIP), anak usaha PT SMART Tbk.

Sebelum penerapan, tim Corporate Social Responsibility (CSR) PT SMART Tbk terlebih dulu menyelesaikan proses dan analisa kaji urai kehidupan masyarakat.

Peserta utama program ini merupakan kelompok warga yang juga pekerja lepas di perkebunan kelapa sawit.

Dia menjelaskan, pertama, warga dilatih membangun demplot pembibitan sayur tujuannya agar mampu menyediakan bibit sayur sendiri.

Lahan lokasi demplot dipinjamkan salah satu anggota yang rumahnya di dekat fasilitas penampungan air hujan, tepat di pinggir jalan desa.

Pembuatan lokasi pembibitan sayur ini dilakukan warga secara gotong-royong setiap hari secara bergiliran, setelah mereka selesai bekerja di kebun kelapa sawit.

PT PIP memberikan dukungan pendampingan, serta membantu menyediakan bahan dan alat kebun sayur pekarangan, seperti polynet sebagai atap penyemaian. Polynet digunakan agar benih dan bibit tidak terpapar langsung oleh sinar matahari dan air hujan, serta mengurangi tingkat penguapan dari permukaan media semai.

Persiapan media semai dilakukan warga dengan mengumpulkan tanah permukaan (top soil), dicampur tanah pasir dan abu limbah pengolahan buah kelapa sawit yang disumbangkan pabrik PT PIP.

Perusahaan juga membantu menyediakan tong biru ukuran besar, terpal plastik, jeriken dan ember bertangkai ukuran besar, serta 15 jenis benih sayuran.

Jenis sayuran yang disemai, seperti kangkung, bayam, sawi manis, sawi pahit, sawi botol, terong ungu, seledri di bedengan, timun, pare, gambas, buncis, kacang panjang, labu kuning, dan lain-lain.

Ia menambahkan, tong biru ukuran besar difungsikan sebagai wadah pengolahan kompos cair.

Terpal plastik digunakan untuk menutup bahan-bahan organik yang diolah menjadi kompos padat, agar terlindung dari hujan dan panas terik.

Sedangkan jeriken dan ember membantu anggota kelompok dalam mengumpulkan dan menyimpan limbah cair rumah tangga, seperti air cucian beras dan ikan, serta air kelapa.

Warga yang menjadi anggota kelompok kebun sayur pekarangan (KSP) dibekali berbagai pengetahuan pendukung.

Mereka mendapatkan beberapa materi pelatihan khusus, seperti cara memperbanyak mikro organisme lokal (MOL) dan nutrisi MOL, cara membuat kompos padat dan kompos cair.

Kemudian, petani dilatih pula cara menguji ion yang terkandung pada tanah di sekitar lingkungan permukiman, cara membuat racun nabati untuk menanggulangi hama penyakit sayuran dari bahan alami, serta cara mengatur waktu tanam dan panen, agar tetap berproduksi sepanjang tahun.

Setelah anggota kelompok KSP mengerti dan mampu budi daya sayur, tahap selanjutnya adalah membangun kebun sayur mini di halaman rumah masing-masing.

Jumlah bedeng dan luasan KSP ini disesuaikan dengan luasan halaman rumah yang akan dimanfaatkan. Begitu pula jenis tanaman sayur yang ditanam.

Kini, setelah program KSP berjalan, halaman rumah penduduk mulai dihiasi berbagai jenis sayuran yang tumbuh dalam bedengan-bedengan kecil.

Susanto berharap, secara perlahan warga lain yang tidak ikut program ini, mulai berminat melakukan hal serupa.

Semula, anggota awal program KSP sebanyak 17 orang, saat ini yang dibina sudah berjumlah lebih dari 40 orang.

Menurutnya, pada tahap awal, tidak sedikit petani ladang beranggapan mengolah lahan tanpa membakar perlu modal besar.

Namun kini pihaknya dapat membuktikan bahwa mengolah lahan tanpa membakar itu tak perlu modal besar.

"Kami membantu warga Dusun Nanga Bian berhasil menggarap lahan di pekarangan rumah sendiri. Program ini tak hanya membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga, tapi juga mendorong warga untuk menjual sayuran hasil panen sendiri kepaemda warga dusun lain. KSP dilakukan dengan cara lebih ramah lingkungan, biaya murah, dan tidak perlu mbuka lahan dengan membakar," katanya pula.

Ia menambahkan, program KSP ini membuktikan bahwa metode buka lahan tanpa membakar dapat dilakukan dengan cara praktis, serta menghasilkan manfaat berkelanjutan bagi warga.

"Kami bakal terus mengembangkan program ini sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk mengatasi bahaya kebakaran hutan dan ancaman kabut asap," kata dia lagi.

sumber : http://kalbar.antaranews.com/berita/344858/petani-kalbar-berkebun-sayur-pekarangan-tanpa-membakar?utm_source=related_news&utm_medium=related&utm_campaign=news

Komunitas WBRC Kenalkan Reptil Ke Masyarakat

Komunitas WBRC Kenalkan Reptil Ke Masyarakat

Pontianak (Antara Kalbar) - Pencinta reptil region Pontianak melakukan kegiatan rutin Minggu pagi, guna lebih mengenalkan salah satu hewan reptil di area Car Free Day (CFD), Pontianak.
     
Komunitas West Borneo Reptile Community (WBRC) melakukan kegiatan di setiap minggu paginya guna mengenalkan reptil khususnya ular sanca ke masyarakat. Hampir semua jenis ular sanca yang dikembangbiakkan dalam komunitas tersebut. 

"Ular-ular tersebut merupakan peliharaan pribadi yang nantinya akan dibudidayakan agar tidak punah," ujar Agis salah satu anggota WBRC.
     
Komunitas yang diketuai Putra Borneo itu menegaskan komunitas WBRC itu berdiri berawal mula dari hobi mengoleksi ular, berkumpul dan berbagi pengalaman. Tidak ada persyaratan khusus untuk dapat bergabung dengan komunitas tersebut. Risikonya setiap hewan yang dipelihara pasti punya kesulitan yang dihadapi dalam proses penjinakan. 

"Tidak semua ular itu menggigit kalau tidak disakiti," tegas Putra.
     
Ada markas khusus untuk menempatkan ular dan ada milik pribadi yang dibawa pulang ke rumah. Aktivitas yang kerap dilakukan oleh komunitas tersebut adalah setiap Minggu pagi mereka berkumpul, mengenalkan berbagai jenis ular di area Car Free Day (CFD), dan juga setiap minggu sore mereka berkumpul di Alun-alun Kapuas serta biasanya komunitas tersebut diundang ke berbagai acara dan sekolah guna memberikan edukasi membudidayakan hewan reptil.
     
Mereka berharap pemerintah ikut mendukung komunitas tersebut seperti menyediakan tempat untuk memelihara dan mengembangbiakkan berbagai jenis ular yang semakin bertambah. 
     
"Sebenarnya reptil itu pantas untuk dipelihara bukan dimusnahkan dan bukan untuk ditakuti," ujar Agis. (Tri/Tulus/N005)

Sumber : http://kalbar.antaranews.com/berita/340001/komunitas-wbrc-kenalkan-reptil-ke-masyarakat

Derita Hewan Ini Jadi Buruan Gara-Gara Berwajah Imut



Gara-gara berwajah imut menggemaskan, kukang (Nycticebus coucang) menjadi buruan penggemar satwa untuk dipelihara. Padahal, kukang merupakan satwa langka yang terlarang menjadi hewan peliharaan.

Berdasarkan Pasal 21 ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem-nya, perdagangan dan pemeliharaan satwa dilindungi termasuk kukang adalah dilarang. Selain itu, satwa dilindungi ini dilarang untuk dieksploitasi baik diburu, dipelihara, diperjualbelikan, maupun dimanfaatkan bagian tubuhnya). 

Para penjual kukang akan dijerat dalam perkara tindak pidana UU Nomor 5 Tahun 1990 dengan ancaman maksimal lima tahun penjara atau denda subsider sebesar Rp 100 juta.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan kukang dalam kategori satwa rentan hingga terancam punah. Beruntung, belasan kukang sudah diserahkan pemiliknya secara sukarela kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat.

Dari Januari hingga pertengahan September 2016, ada 14 ekor kukang yang diserahkan secara sukarela kepada BKSDA Kalimantan Barat," ucap Kepala BKSDA Sustyo Iriono kepadaLiputan6.com di Kota Pontianak, Rabu, 14 September 2016.

Sustyo Iriono menduga kukang tersebut sengaja dipelihara dan banyak peminatnya karena keimutan dan kelucuan. Kebanyakan kukang diserahkan dalam kondisi sehat alias dirawat dengan baik oleh pemilik, termasuk satu kukang yang diserahkan pada Rabu, 14 September 2016. 

"Artinya memang termasuk satwa yang diminati oleh pemelihara atau hobi. Indikasi masih cukup banyak yang masih dipelihara," kata Sustyo.

Kukang jantan remaja itu diserahkan warga bernama Ali Aswat di Graha Bumi Katulistiwa 3/D-10 RT 004 RW 006, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak. Selajutnya, hewan nocturnal itu diamankan di kandang transit BKSDA Kalimantan Barat dan rencananya direhabilitasi di YIARI, Kabupaten Ketapang.

Sumber : http://regional.liputan6.com/read/2602540/derita-hewan-ini-jadi-buruan-gara-gara-berwajah-imut

SUMBER AIR PANAS SIPATN LOTUP SANGGAU

Sumber air panas Ai Sipatn Lotup menjadi unik sebab tidak banyak sumber air panas di pulau Kalimantan.  Seperti juga sumber air panas Hantakan di Kalimantan Selatan, air panas Sajau di Kalimantan Timur, air panas Seburuk di Kalimantan Barat dan Poring Hot Spring di Sabah Malaysia, secara geologis pulau Kalimantan tidak mempunyai gunung berapi sehingga sumber air panas tersebut berasal dari mata air yang dipanaskan oleh panas bumi (geotermal).


Keunikan  sumber air panas SIPATN LOTUP ini berasal dari mata air yang di panaskan oleh panas bumi  (geothermal) dengan temperatur 52-55 derajat Celsius,  Air panas Sipatn lotup termasuk andalan wisata kabupaten Sanggau, namun belum banyak yang mengetahui potensi wisata ini, sehingga belum banyak yang mengunjungi sumber air panas yang unik ini.  Kedepannya sumber air panas ini dapat dikembangkan atau ditata sehingga memiliki kesesuain dan intergrasi antara satu dengan lainnya berupa tempat pemandian air panas, sarana dan prasarana lainnya, tempat parkir tempat penggantian pakaian,warung rakyat, pendopo, taman bermain.
Kolam ini terletak di kampung Peruntan, Desa Sape, Kecamatan Balai Sebut, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, sekitar 6 jam perjalanan dari Pontianak. Ada dua rute yang bisa ditempuh dari kota Sanggau menuju tempat ini, yaitu melalui jalur Sanggau – Kembayan – Jangkang dengan jarak tempuh kurang lebih 168 Km dari Pusat Kota Kabupaten Sanggau. Sedangkan melalui jalur Sanggau – Mukok – Jangkang dapat ditempuh dengan jarak kurang lebih 70 Km. Jalur transportasi dapat dilalui dengan kendaraan roda Empat dan Roda dua. Dengan menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam perjalanan maka pesona kawasan wisata Sumber air panas dapat dinikmati dengan kesegaran alami.
Seperti diketahui, semakin dalam letak batu-batuan di dalam perut bumi, semakin meningkat pula temperatur batu-batuan tersebut. Air merembes ke dalam kerak bumi yang sangat dalam, dan dipanaskan oleh permukaan batu yang panas. Air yang sudah dipanaskan keluar berupa sumber air panas.
Sumber : http://wisatapontianak.com/sumber-air-panas-sipatn-lotup-sanggau/