Kamis, 27 Oktober 2016

TITIK KULMINASI TUGU KHATULISTIWA PONTIANAK KALIMANTAN BARAT



Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah.
Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Pontianak. Sejarah mengenai pembangunan tugu ini dapat dibaca pada catatan yang terdapat di dalam gedung. Bangunan Tugu Khatulistiwa terdiri dari 4 buah tonggak kayu dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah.
Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada diatas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan Tugu Khatulistiwa akan “menghilang” beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain disekitar tugu.
Pada bulan Maret 2005, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan koreksi untuk menentukan lokasi titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak. Koreksi dilakukan dengan menggunakan gabungan metoda terestrial dan ekstraterestrial yaitu menggunakan global positioning system (GPS) dan stake-out titik nol garis khatulistiwa dikoreksi.
Hasil pengukuran oleh tim BPPT, menunjukkan, posisi tepat Tugu Khatulistiwa saat ini berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan, 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur
Sementara, posisi 0 derajat, 0 menit dan 0 detik ternyata melewati taman atau tepatnya 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu saat ini. Di tempat itulah kini dibangun patok baru yang masih terbuat dari pipa PVC dan belahan garis barat-timur ditandai dengan tali rafia.
Mengenai posisi yang tertera dalam tugu (0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur), berdasarkan hasil pelacakan tim BPPT, titik itu terletak 1,2 km dari Tugu Khatulistiwa, tepatnya di belakang sebuah rumah di Jl Sungai Selamat, kelurahan Siantan Hilir.
Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan “menghilang” beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain di sekitar tugu.
Peristiwa titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang menarik kedatangan wisatawan.
  • 21 Juni, posisi matahari berada di belahan bumi utara (23,5 derajat Lintang Utara).dsn matahari kembali berada di khatulistiwa demikian juga pada 23 September, kembali posisi matahari berada tepat di khatulistiwa.
  • 22 Desember, matahari berada di belahan bumi selatan (-23,5 derajat Lintang Selatan).
  • 21 Juni dan 22 Desember) posisi matahari berada di utara dan selatan disebut dengan Solastis Matahari.
  • Maret hingga September, lebih banyak menerangi bumi utara daripada selatan.
  • September hingga Maret terjadi sebaliknya.
Kulminasi matahari merupakan peristiwa alam yang hanya terjadi di lima negara, antara lain di Indonesia, (Pontianak), Afrika, ( Gabon), Zaire,(Uganda), Kenya dan Somalia. Di Amerika Latin, garis itu juga melintasi empat negara yaitu, Equador, Peru, Columbia dan Brazil. Dari semua kota atau negara yang dilewati tersebut, hanya Kota Pontianak tepat  dibelah atau dilintasi  oleh garis khatulistiwa, sehingga Kota Pontianak juga dikenal dengan sebutan Kota Khatulistiwa.


Sumber : http://wisatapontianak.com/titik-kulminasi-tugu-khatulistiwa-pontianak-kalimantan-barat/



HUTAN KOTA (ARBORETUM SYLVA UNTAN)

Hutan Kota (Arboretum Sylva Untan) merupakan kebun koleksi tanaman dan pepohonan khusus Kalimantan Barat sebagai tempat keanekaragaman hayati, pengembangan pendidikan, pengembangan hutan kota, serta sarana rekreasi dan hiburan masyarakat. Arboretum merupakan kabun koleksi tanaman dan pepohonan khusus Kalimantan Barat sebagai tempat pelestarian keanekaragaman hayati, pengembangan pendidikan, pegembangan hutan kota serta sarana rekreasi dan hiburan masyarakat.
Arboretum sylva untan merupakan kawasan pelestarian plasma nutfah Kalimantan Barat. Maksud pengelolaan arboretum ini adalah untuk pengoleksian, perlindungan dan pelestarian flora dan fauna Kalimantan Barat. Sedangkan tujuannya adalah sebagai tempat pengembangan keanekaragaman hayati, tempat pengembangan pendidikan, pengembangan hutan kota serta sarana rekreasi dan hiburan bagi masyarakat. Memang, sebelum dikelola secara baik kawasan arboretum merupakan areal percontohaan antara Departemen Perindustrian Dan Pertanian yang ditanami ubi dan jagung. Karena kurangnya pengelolaan terhadap kawasan tersebut, tanaman ubi dan jagung terbengkalai dan akhirnya ditumbuhi rumput dan alang-alang.
Taman kota dengan luas kawasan sekitar 3,2 hektar ini terletak di kawasan Universitas Tanjungpura, Jalan Jendral Ahmad Yani Pontianak. Memiliki 190 jenis pohon, 86 anggrek, 176 perdu dan tumbuhan bawah, 12 jenis mamalia, 32 jenis bururng, 14 jenis hertofauna dan 35 jenis serangga. Suasana sejuk begitu terasa saat memasuki hutan mini di Kawasan Arboretum Sylva Untan. Pepohonan yang berderet di pinggir itu menyambut siapa saja yang singgah di kawasan tersebut. Dari jalan Ahmad Yani, kesejukan bahkan bisa dirasakan saat menunggu lampu traffic light.
Kawasan hutan kota ini juga dapat dipergunakan sebagai tempat kejadian photography dan flim, jogging dan cycling, ekowisata dan outbound. Sylva Untan kini tengah mengusahakan agar arboretum bisa lebih dikenal di dunia internasional. Mereka saat ini sedang membangun jaringan dengan lembaga-lembaga lingkungan di luar negeri untuk memperkenalkan arboretum. Sejumlah persiapan juga dilakukan. Misalnya pendataan secara lebih detail flora dan fauna yang ada di Arboretum. Selain itu juga penambahan fasilitas di kawasan ini, seperti pembangunan meeting room, rail untuk keliling kawasan, dan juga home stay.
Namun salah satu kendala untuk mewujudkannya adalah masalah pendanaan. Aktivis Sylva Untan Marcel Gerensa mengatakan, pihaknya kini tengah berupaya menggalang dana agar berbagai kebutuhan untuk mengenalkan kawasan arboretum ke dunia internasional bisa terwujud.
Sumber : http://wisatapontianak.com/hutan-kota-arboretum-sylva-untan/

ALOE VERA CENTER | LIDAH BUAYA KOTA PONTIANAK KALIMANTAN BARAT


(Latin: Aloe barbadensis Milleer) merupakan sejenis tanaman berduri. Tanaman lidah buaya tak hanya bermanfaat untuk perawatan dan kesuburan rambut anda. Lidah buaya ternyata juga nikmat disantap sebagai minuman segar yang berkhasiat bagi kesehatan. Tanaman ini relatif mudah ditemui di Pontianak, Kalimantan Barat. Biasanya para petani menjual pelepah lidah buaya dengan harga seribu rupiah perkilogram.
Tidak hanya itu, seorang dokter dari zaman Yunani kuno yang bernama Dioscordes, menyebutkan jika salah satu manfaat lidah buaya yakni memiliki khasiat untuk mengobati berbagai macam jenis penyakit. Misalnya radang tenggorokan, bisul, rambut rontok, wasir, dan kulit memar, pecah-pecah serta lecet.
Lidah buaya ternyata dapat dijadikan minuman yang sangat nikmat. Caranya relatif mudah. Daun lidah buaya dibelah dan diambil dagingnya kemudian dipotong-potong menjadi kecil-kecil. Untuk menghilangkan lendirnya, lidah buaya dicuci lalu direbus hingga matang agar rasa getirnya hilang. Setelah itu potongan lidah buaya dicampur air gula atau sirup atau es batu. Maka jadilah minuman segar lidah buaya.
Beberapa unsur vitamin dan mineral di lidah buaya dapat berfungsi sebagai pembentuk antioksidan alami seperti vitamin C, vitamin E, vitamin A, magnesium dan Zinc. Antioksidan ini berguna untuk mencegah penuaan dini, serangan jantung dan berbagai penyakit degeneratif. 
Lidah Buaya Pontianak termasuk dalam jenis Aloevera Chinensis. Lidah buaya jenis ini dapat terus dipanen sampai umur 12 hingga 13 tahun. Karena jenisnya bagus dan tanahnya yang mendukung, lidah buaya ini dapat berkembang menjadi lidah buaya super karena setiap pelepahnya memiliki berat sekitar 0,8 – 1,2 kilogram. Berbeda dengan lidah buaya Amerika dan Cina yang beratnya hanya 0,5 sampai 0,6 kilogram. Setelah berumur 10 sampai 12 bulan, lidah buaya Pontianak dapat dipaneh setiap bulan. Keunggulan lidah buaya Pontianak sudah diakui dunia. Oleh karena itu, lidah buaya pontianak banyak diekspor ke luar negeri.
Khasiat / Kegunaan minuman Minuman lidah buaya  :
1. Minuman penyegar badan
2. Membantu menyembuhkan :
  • Panas dalam
  • Sariawan
  • Bibir pecah/kering
  • Nafas bau
  • Melancarkan buang air besar
  • Mulut terasa pahit
3. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
4. Menghilangkan keletihan
5. Menguatkan sel dan jaringan tubuh
6. Meningkatkan metabolisme tubuh
7. Menguatkan paru-paru
8. Obat kencing manis, penambah stamina, penetralisir pencernaan, luka bakar.

MAKAM RAJA BATU LAYANG PONTIANAK KALIMANTAN BARAT




Makam Kesultanan Pontianak di Batu Layang merupakan aset ketiga warisan Kesultanan Pontianak sesudah Istana Kadriah dan Mesjid Sultan Abdurrahman. Konon ketiga lokasi ini mempunyai letak dengan garis lurus dari istana, mesjid dan makam dari arah timur ke barat. Komplek pemakaman ini khusus bagi para Sultan Pontianak dan keluarganya dan bukan untuk umum.
Terletak dipinggir sungai Kapuas, pada masa dahulu makam ini hanya dapat dicapai dengan perahu melalui sungai. Kini makam itupun dapat dikunjungi melalui jalan darat pada sisi jalan menuju Jungkat, kira kira 200 meter dari jalan raya. Selain ramai dikunjungi para peziarah, banyak pula wisatawan mengunjungi makam ini untuk mengetahui lebih lengkap tentang riwayat para Sultan Pontianak, dengan segala bukti keberadaannya.
Pada awalnya makam ini sebagai makam Sultan Abdurrahman yang wafat pada tahun 1808. Sultan dan kerabatnya telah memilih makam mereka di pinggir sungai Kapuas didaerah Batu Layang. Tidak jelas alasan yang kuat mengapa dipilih tempat pemakaman para Sultan itu dipinggir sungai Kapuas. Kebiasaan raja-raja Jawa atau Sumatera membuat tempat pemakaman disuatu bukit atau disekitar mesjid. Mungkin Sultan Syarif Abdurrahman mempunyai makna khusus yang bernilai sejarah baginya. Pada awal kedatangannya menelusuri muara sungai Kapuas tahun 1771, ia menemukan sebuah pulau ditengah sungai yang kemudian disebut pulau Batu Layang. Ketika ia berhenti di pulau itu, disinilah ia mulai diganggu oleh para “hantu” (Kuntilanak atau Pontianak) menurut dongeng. Tetapi sesungguhnya ia telah diganggu oleh para bajak laut dan perompak yang menghalangi perjalannya memasuki muara sungai Kapuas. Lima malam lamanya ia melawan dan menembaki para bajak laut itu dan akhirnya ia berhasil mengalahkan para bajak laut dan mendarat ditempat dimana kemudian ia mendirikan kerajaan Pontianak. Ditempat awal dimana ia berhasil menghalau gangguan musuhnya bajak laut ditempat bersejarah itu pulalah ia ingin dimakamkan yaitu di komplek Batu Layang.
Mengapa di sebut “Batu Layang” belum di dapat keterangan yang jelas. Mungkin waktu Syarif Abdurrahman diganggu perompak ada batu yang dilepar melayang ke perahunya. Di depan Batu Layang terdapat sekelompok batu warna kuning yang konon selalu tumbuh dan menjadi besar.
Sampai sekarang kedelapan Sultan Pontianak dimakamkan di Batu Layang. Begitupun beberapa keluarganya, yaitu isteri, anak dan cucunya.
Makam Sultan Syarif Abdurrahman terbuat dari kayu belian bertingkat dua. Diukir dengan motif tumbuhan bersulur yang selalu ditutupi dengan kelambu berwarna terang. Makam Sultan yang sudah berusia hamper 200 tahun itu telah banyak mendapat perbaikan dan perubahan. Disampingnya terdapat makam isterinya Puteri Utin Chandramidi yang wafat tahun 1246 H atau tahun 1830.
Makam Sultan Syarif Kasim yang wafat tahun 1819 berpagar kayu dan berkelambu kuning. Disampingnya terdapat makam seorang isteri dan anaknya. Begitupun makam Sultan Syarif Usman yang wafat ahun 1860, dimakamkan bersama isteri dan keluarganya. Makam Sultan Syarif Usman dalam satu ruang berpagar khusus. Nisan para Sultan yang berbentuk gada, menunjukkan bahwa itu adalah makam seorang lelaki. Nisan keluarga perempuan bebrbentuk pipih.
Demikian pula dengan makam Sultan Hamid I, Sultan Syarif Yusuf, Sultan Syarif Muhammad, Sultan Syarif Thaha dan Sultan Hamid II dalam kelompok tersendiri. Makam Sultan Syarif Muhammad yang naik tahta tahun 1895, wafat sebagai akibat keganasan tentara pendudukan Jepang bersama dengan Sultan dan Panembahan di Kalimantan dan puluhan ribu pemuka dan rakyat Kalimantan Barat tahun 1944. la ditangkap Jepang tanggal 24 Juni 1944. Setelah disiksa. Dikuburkan dipemakaman Kristen dekat gereja Katholik ( Jl. Kartini sekarang ) Pontianak. Baru pada tahun 1945, puteranya Sultan Hamid II memindahkan jenazahnya ke pemakaman Batu Layang. Di samping makam Sultan Syarif Muhammad dimakamkan isterinya Syecha Jamilah binti Mahmud Syarwani bergelar Maha Ratu Suri yang meninggal tanggal 14 April 1977. Terdapat pula makam Syarifah Fatimah binti Syarif Muhammad bergelar Ratu Anom Bendahara.
Sultan Syarif Thaha Alkadri bin Syarif Usman bergelar Pangeran Negara wafat pada hari Kamis 27 September 1984. Disebelahnya makam isterinya Raden Ajeng Sriyati bergelar Ratu Negara yang wafat hari Sabtu 12 Juni 1982.
Sultan Hamid II yang wafat tanggal 30 Maret 1978 di Jakarta juga dimakamkan di pemakaman Batu Layang. Inilah prosesi pemakaman Sultan Pontianak terakhir. Semua upacara pemakaman para Sultan Pontianak dilakukan dengan upacara kebesaran oleh rakyat Pontianak. Kebesaran seorang Sultan dimakamkan dengan penuh upacara dengan perarakan perahu Lancang Kuning melalui sungai Kapuas.
Sumber : 



CAP GO MEH KALIMANTAN BARAT

cap Go Meh dirayakan pada hari kelima belas tahun baru Imlek dan yang menjadi fokus pada perayaan ini adalah Tatung/Louya. Cap Go Meh merupakan suatu ritual yang dilakukakn oleh Tatung/Louya untuk membersihkan kampung, jalan dan tempat-tempat lainnya dari roh/makhluk jahat yang mengganggu ketentraman manusia. Cap Go Meh di Singkawang merupakan tradisi yang unik karena merupakan akulturasi budaya orang-orang Tionghoa dengan budaya masyarakat lokal.
Hal ini bermula ketika perkampungan Tionghoa penambangan emas di Monterado pada ratusan tahun yang lalu diserang wabah penyakit yang diyakini dsebabkan oleh roh/makhluk jahat, maka terjadilah perlawanan di mana para Tatung/Louya turun kampung dengan diiringi genderang tetabuhan dan pembakaran Hio yang tidak putus-putusnya dan akhirnya perkampungan kembali tentram.
Tatung/Louya adalah orang yang terpilih yang dirasuki roh leluhur yang memiliki kekuatan magis sehingga kebal terhadap tusukan, sabetan pedang, besi, maupun benda-benda tajam lainnya. Untuk menjadi Tatung/Louya selain dari proses belajar juga dari keturunan. Tak heran pada perayaan Cap Go Meh ada beberapa anak yang bisa menjadi Tatung/Louya dan ikut melakukan parade keliling Kota Singkawang.
Walaupun Cap Go meh dirayakan pada hari ke lima belas, namun sehari sebelumnya para Tatung/Louya telah melakukan atraksinya. Sesuai dengan sejarahnya maka 1 hari sebelum perayaan Cap Go Meh, para Tatung/Louya dari ratusan vihara yang ada di seputar Kota Singkawang sudah turun ke jalan-jalan berkeliling kota masuk keluar permukiman membersihkan kampung dari roh/makhluk jahat.
Tatung/Louya itu lebih dahulu menuju vihara untuk melakukan persembahan serta meminta ijin kepada Dewa sebelum melakukan atraksi dan berkeliling kota. Vihara yang banyak didatangi Tatung/Louya melakukan persembahan dan meminta ijin adalah Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang diyakini sebagai vihara tertua yang ada di Kota Singkawang.
Prosesi terakhir perayaan Cap Go Meh adalah pelanggan barang-barang yang telah diberkati. Barang yang dilelang seperti miniatur barongsai, ayam, berbagai jenis kue, batang tebu, minuman kaleng dan botol, jeruk serta keramik. Harga barang yang dilelang dapat mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Ini terkait dengan kepercayaan bahwa yang mendapatkan barang-barang yang dilelang dan telah diberkati akan membawa keberuntungan. Makanya tidak mengherankan jika peserta lelang berusaha untuk mendapatkan barang-barang tersebut agar keberuntungan selalu menyertai.

Sumber : http://wisatapontianak.com/cap-go-meh-kalimantan-barat/

WARUNG KOPI PONTIANAK


Begitu banyak budaya dan kebiasaan masyarakat di Indonesia yang tidak terlepas dari budaya turun menurun dari nenek moyang di bumi nusanatara ini. Dikarenakan begitu banyaknya suku-suku di bumi Indonesia ini yang mempunyai sifat dan kebiasaan yang berbeda di masing-masing komunitas suku tersebut.
Begitu juga dengan kota Pontianak, mempunyai kebiasaan yang sudah sangat mentradisi sekali di sini yaitu ngobrol dan kongkow-kongkow sambil minum kopi di warung kopi. Bahkan kalau pendatang yang sudah lama tinggal dan menetap di Pontianak bisa juga ter Addicted sama tradisi tersebut, ibarat kata orang Pontianak “tuh sudah ngenyan die”, ngopi di warkop sambil membicarakan berbagai hal yang tengah terjadi di sekitar bahkan tak lupa isu poliktik di tanah air pun tak lepas sebagai bahan obrolan hangat.
Maka tak heran kadangkala urusan bisnis ataupun transaksi bernilai milyaran pun dibicarakan ataupun berawal dari hasil kongkow-kongkow di warung kopi dengan hanya ditemani kopi pancong segelas ukuran kecil dan hanya ditemani kue-kue buat cemilan ringan teman minum kopi pancong tersebut. Akan tetapi tak jarang pula bisnis yang dibicarakan hanya sebatas wacana dan rencana maka orang disini menyebutnya: “Bisnes Angen Kabu-Kabu” atau “Bisnes Ta’ Tento Rudu” atau  “Bisnes Angen Pukol Angen”, kenapa pula bisa disebut demikian?, karena yang dibicarakan bisnis dan proyek yang nilainya sampai mencapai ratusan juta rupiah tapi minumnya hanya segelas kopi pancong yang harganya hanya Rp.2.000,- per gelas, tidak masuk akal bukan?. Apalagi kalau ditunjang penampilan perlente dengan memakai baju rapi,celana kain tersetrika rapi serta sepatu hitam pantofel dan membawa map pula (yang mungkin isinya foto copy surat-surat proyek entah dapat dimana) maka makin lengkaplah dia kalau boleh dipanggil “Toke angen pukol angen”.
Kalau soal ngopi dan bicara bisnis ratusan juta di warkop Pontianak, maka maaf untuk warung kopi  sekelas Cafe Starbucks pun lewat. Saking fenomenalnya kopi pancong tersebut, bahkan sudah ada seorang musisi Pontianak yang membuat lagu dengan judul kopi pancong tersebut yaitu Bapak Zairin Ahmad.
Pengen makan cap chai langganan yang di warung kopi Hijas. Pengen ngopi di Asiang atau di Asia Jaya. Cuman sayang, kalaupun sekarang-sekarang bisa berangkat ke sana, tetap saja gak bisa minum kopi. Kalau minum kopi belum diisi nasi dan lauk pauk perut pasti berontak. Sebelum ngopi jangan lupa makan dulu lah biar gak ada efek samping gitu pas selesai dari ngopi atau sedang ngopi lucu gitu eh tiba-tiba pengen ke toilet kan gak seru jadinya ngopi lucu imutnya.
Daftar kopi yang khas dan tidak pernah kelihatan sepi di Kota Pontianak
1. Warkop Asiang Jl. Diponegoro
2. Warkop Hijas Jl. Hijas
3. Warkop Winny Jl. Gajahmada
4. Warkop Winner Jl. Gajahmada
5. Warkop Suka Hati Jl. Tanjung Pura
6. Warkop Sari Wangi Jl. Tanjung Pura
7. Warkop Aming Jl. Setia Budi
8. Warkop Asia Jaya Jl. Hijas
Sumber : http://wisatapontianak.com/warung-kopi-pontianak/

MUSEUM NEGERI SEJARAH BUDAYA KHAS PONTIANAK KALIMANTAN BARAT

Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat
Jl. Jenderal A. Yani, Pontianak 78121
Telp.                : (0561) 734600, 7078571
Faks.                : (0561) 747518
Website           :  www.museumkalbar.net
Museum Provinsi Kalimantan Barat dirintis sejak tahun 1974 oleh Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi Kalimantan Barat melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Permuseuman Kalimantan Barat. Fungsionalisasinya diresmikan pada tanggal 4 Oktober 1983 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Depdikbud, sejak itu Museum Provinsi Kalimantan Barat dibuka untuk umum. Ada empat seksi yang bekerja di museum ini, yaitu seksi edukasi , kelembagaan, koleksi ,peralatan. Museum biasanya mengadakan pameran lukisan yang di tampilkan di selasar museum. Biasanya juga mengadakan lomba cerdas cermat setiap tahun , melukis dan lomba mading. Adapun usaha yang dilakukan supaya masyarakat terutama anak sekolah mengetahui bahwa pentingnya budaya, maka museum mengadakan kegiatan sosialisasi. Ada juga kegiatan museum masuk sekolah.
Museum ini menyimpan di antaranya koleksi Geografika/Geologika berupa peta dan jenis batu-batuan; koleksi biologika, arkeologika, historika, numismatika, dan keramologika berupa tempayan, piring, mangkuk, sendok, dll. yang berasal dari China, Vietnam, Jepang, Eropa, dan keramik lokal Singkawang. Selain menampilkan koleksi yang ada di Ruangan Pameran Tetap I, Museum Provinsi Kalimantan Barat juga menampilkan koleksi replika dan miniatur yang berada di plaza Jangkar kapal dagang asing.
Aktivitas Museum meliputi pameran, bimbingan kepada pengunjung, karya tulis, konservasi/preparasi koleksi, survei, pengadaan koleksi, ceramah, sarasehan, sosialisasi, diskusi, penelitian, lomba lukis, cerdas cermat, dll.
Dari adat dayak yang terkesan seram, beralih ke koleksi adat melayu Pontianak. Satu kata yang terucap dari buda’-buda’ pontianak (buda’-buda’: panggilan teman-teman atau sekolompok orang sebaya) yaitu ‘GLAMOUR’. Kenapa dikatakan glamour? Karena dari koleksi yang ada di museum ini kebudayaan melayu di pontianak dikaitkan dengan barang-barang mewah semacam gramofon, alat musik yang lengkap yang biasa digunakan musisi-musisi jazz serta kain-kain emas dan perhiasan yang membuat silau mata. Ditunjukkan pula betapa glamournya suatu adat pernikahan masyarakat melayu yang dilengkapi dengan ritual-ritual yang mengiringinya. Yang paling menonjol dan berkesan yakni budaya betangas yang hingga kini masih membudaya, antara lain mandi uap untuk membersihkan kotoran sebelum menikah.
Sumber : http://wisatapontianak.com/museum-negeri-sejarah-budaya-khas-pontianak-kalimantan-barat/